Ketahui Beberapa Bahaya Bulu Kucing yang Sering Diremehkan

3 min read

bahaya bulu kucing

Meskipun kucing merupakan hewan yang terkenal selalu bersih karena rajin membersihkan tubuhnya. Ternyata bulu kucing memiliki bahaya yang wajib untuk Anda waspadai. Bahaya ini terutama akan lebih beresiko terjadi pada ibu hamil, bayi serta anak anak maupun dewasa yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Berikut akan tersaji beberapa bahaya bulu kucing serta bagaimana mencegah agar bahaya ini tidak sampai terjadi pada diri dan keluarga Anda. Let’s start!

Bahaya Bulu Kucing yang Perlu Anda Ketahui

Kucing merupakan hewan yang menggemaskan. Tingkah lakunya yang lucu dan manja membuat kita senang dan bahagia berada di dekat kucing peliharaan kita. Bahkan telah terbukti bahwa suara purr dari kucing dapat mencegah terjadinya depresi, menenangkan serta berefek kesehatan.

Siapa yang menyangka bahwa ternyata parasit dan bakteri dapat hinggap pada bulu kucing peliharaan Anda. Terlebih apabila kucing tersebut liar dan tidak pernah mendapatkan vaksin terhadap berbagai penyakit menular serta cacing. Berikut akan dijelaskan beberapa bahaya bulu kucing yang harus Anda waspadai:

1. Bulu Kucing dan Berbagai Parasit/Bakteri yang Dapat Menginfeksi

Ternyata bulu kucing merupakan tempat yang disukai oleh parasit dan bakteri. Beberapa parasit yang ditemukan di bulu kucing antara lain adalah ringworm (cacing) dan kutu kucing. Anda wajib waspada jika memiliki kucing yang sering menggaruk bagian belakang telinga maupun bagian belakang ekornya. Terlebih apabila kucing Anda merupakan jenis kucing outdoor, sering beraktivitas di luar rumah. Bisa jadi kucing Anda sedang mengalami infeksi parasit dalam tubuhnya.

Cacing tidak hanya dapat menginfeksi bulu dan kulit kucing. Akibat kebiasaan menjilat bulu dan tubuhnya, cacing dapat memasuki saluran pencernaan kucing. Berkembang biak dalam usus kucing, mengganggu proses pencernaan hingga dapat berakibat kematian pada kucing. Kutu kucing juga dapat menjadi tempat perkembangbiakan telur cacing. Baik cacing maupun kutu kucing dapat mudah ditularkan kepada manusia.

Sedangkan dari jenis bakteri yang dapat ditularkan kepada manusia melalui bulu kucing antara lain Bartonella henselae (penyakit cakar kucing), Campylobacteriosis, Salmonella typhii (penyebab penyakit tipus) dan toxoplasmosis (dari sisa kotoran kucing yang menempel pada bulu kucing).

Penyakit cakar kucing dapat berpindah pada manusia melalui gigitan dan cakaran kucing. Namun bukan tidak mungkin bakteri menginfeksi melalui bulu kucing. Terlebih apabila Anda mengucek mata setelah menyentuh bulu kucing tanpa mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun dan air mengalir.

Manusia yang terinfeksi dengan bakteri yang berasal dari kucing dapat mengalami masalah kesehatan antara lain diare serta gangguan kulit dan pencernaan. Bagi Ibu hamil dan bayi, infeksi bakteri dapat mengarah ke penyakit yang lebih serius. Dapat terjadi kecacatan selama kehamilan serta resiko terjadinya keguguran. Bayi dapat mengalami infeksi saluran pernafasan dan berbagai masalah serius lain akibat infeksi bakteri dan parasit dari bulu kucing.

2. Bulu Kucing dan Reaksi Alergi

Selain parasit dan bakteri, bulu kucing ternyata dapat mencetuskan alergi. Pada beberapa orang yang sensitif terhadap bulu hewan terutama kucing, reaksi alergi dapat terjadi. Apabila reaksi alergi muncul pada saluran pernafasan, maka gejala sesak dan serangan asma dapat terjadi.

Lain halnya apabila reaksi alergi terjadi pada sistem integumen atau kulit manusia. Gatal, mata berair, kemerahan, ruam dan bengkak dapat terjadi akibat reaksi alergi terhadap bulu kucing.

Waspada berbagai tanda dan gejala alergi terhadap bulu kucing pada diri Anda maupun pada anggota keluarga Anda. Menghindari kontak dengan kucing hanyalah satu satunya cara untuk menghindarkan terjadinya reaksi alergi terhadap bulu kucing.

Bagaimana Mencegah Bahaya Bulu Kucing Agar Tidak Menimbulkan Masalah Kesehatan yang Serius?

Beberapa hal dapat Anda laksanakan untuk mencegah bahaya bulu kucing agar tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius seperti yang telah tersebut pada paragraph di atas. Berikut penjelasannya:

1. Menyediakan Makanan Sehat Khusus Kucing

Parasit menginfeksi tubuh dan bulu kucing melalui makanan dan minuman yang tidak sehat atau terkontaminasi. Terlebih pada area kuku kucing. Apabila Anda membiarkan kucing Anda bermain di luar rumah, pastikan bahwa bulu dan kuku kakinya bersih dari sisa tanah maupun kotoran lain.

Perhatikan pula jenis makanan yang Anda berikan pada kucing Anda. Jangan pernah memberikan makanan mentah, atau bahkan membiarkan kucing Anda memakan bangkai tikus. Makanan mentah dan bangkai tikus sangat mudah terinfeksi parasit. Pastikan Anda memberikan makanan kucing yang sesuai serta pada wadah yang bersih.

Begitupula dengan air minum kucing. Pastikan bahwa air yang diminum adalah air yang bersih. Ganti dan bersihkan wadah air minumnya secara rutin. Perhatikan pula apabila terjadi perubahan pada area mulut, telinga dan kemaluan kucing.

2. Memandikan Kucing

Meski kucing dapat memandikan tubuhnya secara mandiri. Beberapa kucing terlebih yang memiliki bulu tebal tidak dapat secara maksimal membersihkan bulu mereka. Bulunya akan mudah kotor dan terinfeksi oleh berbagai parasit dan bakteri yang mengancam kesehatan Anda dan anggota keluarga.

Pastikan bahwa kucing Anda bersih dengan memandikannya minimal sekali dalam sebulan dengan menggunakan shampoo anti kutu khusus kucing. Apabila diketahui kucing Anda terlanjur mengalami infeksi parasit maupun bakteri dalam tubuhnya, maka periksakan ke dokter hewan maupun klinik hewan terdekat. Laksanakan pengobatan serta vaksinasi, sebelum masalahnya menyebar dan menyerang diri Anda maupun keluarga.

3. Menyediakan Tempat Khusus Kucing untuk Membuang Kotoran

Kotoran kucing merupakan salah satu objek penularan virus toxoplasmosis dari kucing kepada manusia. Virus ini dapat menular apabila manusia menyentuh kotoran kucing namun kemudian tidak membersihkan tangan dan kemudian memakan bahan makanan yang terkontaminasi dengan kotoran kucing.

Perlu Anda waspadai, meski kucing merupakan hewan yang sangat menjaga kebersihan dirinya. Tidak jarang sisa kotoran masih menempel pada bulunya dan amat beresiko tersentuh oleh tangan Anda. Terutama ketika Anda maupun anggota keluarga membelai bulu kucing.

Pastikan kucing tidak meletakkan kotorannya di sembarang tempat. Dan pastikan Anda menggunakan pasir kotoran kucing yang sesuai dan direkomendasikan untuk digunakan. Buatlah lubang pembuangan khusus kotoran kucing di pekarangan rumah Anda, dan pastikan kotoran kucing terpendam dengan baik. Bila tidak ada lahan, buanglah kotoran kucing dalam kloset dan pastikan Anda menyiram kloset serta melaksanakan disinfeksi kamar mandi terutama kloset dengan baik dan benar serta rutin.

4. Mencuci Tangan Selepas Memegang Hewan Peliharaan

Sangat penting untuk selalu membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selepas Anda memegang hewan peliharaan terutama kucing. Sabun akan mematikan segala bentuk bakteri dan telur cacing yang tertinggal pada telapak tangan maupun terselip di dalam kuku Anda.

5. Menghindari Kucing jika Anda Positif Memiliki Alergi terhadap Bulu Kucing

Apabila Anda maupun anggota keluarga dinyatakan dan terbukti positif mengalami alergi terhadap bulu kucing. Maka menghindari paparan bulu kucing merupakan satu satunya cara ampuh untuk menghindarkan Anda daripada terjadinya reaksi alergi baik pada saluran pernafasan maupun pada kulit.

Bila perlu, berilah pembatas pada area rumah Anda. Batas ini menjadi penanda bagi kucing Anda agar tidak memasuki wilayah steril dan mengkontaminasi pakaian maupun barang pribadi Anda dan anggota keluarga.

Demikian telah tersaji informasi mengenai bahaya bulu kucing serta beberapa tips mencegah agar bulu kucing tidak menambah masalah kesehatan pada diri dan keluarga Anda. Semoga artikel ini bermanfaat terutama jika Anda seorang catlovers! Salam!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *